Rabu, 23 November 2011

sejarah Bolton Wanderers

Bolton Wanderers Berdiri: 1874
Alamat: Burnden Way, Lostock Bolton BL6 6JW England
Telepon: 01204.673 673
Faksimile: 01204.673 773
Surat Elektronik: reception@bwfc.co.uk
Laman Resmi: http://www.bwfc.co.uk
Ketua: Phil Gartside
Direktur: Allan Duckworth
Stadion: Reebok Stadium
Sejarah Singkat
Bolton Wanderers adalah klub terlama yang menghabiskan masa peredaran di divisi teratas kompetisi sepakbola Inggris tanpa memenanginya satu kalipun. Sejak didirikan pada 1874, musim ini merupakan musim ke-71 bagi Bolton berlaga di top tier. Pada 1923, Bolton menjadi tim peraih trofi Piala FA pertama di stadion Wembley. Laga final melawan West Ham United dikenang sepanjang masa sebagai The White Horse Final. Tak kurang dari 127 ribu penonton menyaksikan momen bersejarah itu.

Selain menjuarai Piala FA empat kali selama 1920-an dan 1958, Bolton lebih sering berkutat di divisi bawah sepakbola Inggris. Titik nadir prestasi klub terjadi pada 1987 ketika klub harus mencicipi Divisi Empat. Titik balik sejarah klub terjadi pada musim panas 1992 ketika Bruce Rioch menjadi manajer tim. Rioch membawa Bolton mencapai Liga Primer pada 1995. Tapi, kesuksesan tersebut membuat Rioch dipercaya menangani Arsenal dan Bolton kembali degradasi musim berikutnya. Colin Todd membangkitkan Bolton dengan menjuarai Championship 1996/97 dan bertahan di Liga Primer.

Kekuatan Bolton mencapai puncaknya ketika ditangani Sam Allardyce. Meski masih berkutat di papan bawah, pelan-pelan Allardyce membentuk karakter terhadap Bolton. Berturut-turut pada 2004 dan 2005, Allardyce membawa Bolton berjaya dengan menduduki posisi kedelapan dan keenam liga. Prestasi terbaik klub hingga saat ini. Sayangnya, sepeninggal Allardyce, Bolton masih belum mampu melepaskan diri sebagai tim yang lebih sering berkutat di papan bawah klasemen.
Catatan Prestasi
4 kali juara Piala FA (1922/23, 1925/26, 1928/29, 1957/58)

1 kali juara Championship (1996/97)

1 kali juara Divisi Tiga lama (1972/73)

Sikap Ke Fans
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.0
Faktor Kebencian
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.5
Manajemen
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.0
Kekuatan Belanja
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
5.5
Stabilitas
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.5
Stadion
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.5
Dukungan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
5.0
Jersey
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
7.0
Penggunaan Dana
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.0
Kualitas Laman Web
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.5
Jangkauan Global
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
4.5
Sistem Pembinaan Remaja
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
6.5
 

sejarah Wolverhampton Wanderers

Wolverhampton Wanderers Berdiri: 1889
Alamat: Molineux Stadium, Waterloo Road, Wolverhampton WV1 4QR England
Telepon: 0871 222 2220
Faksimile: 01902 687006
Surat Elektronik: info@wolves.co.uk
Laman Resmi: http://www.wolves.co.uk
Ketua: Steve Morgan OBE
Direktur: Jez Moxey
Stadion: Molineux
Sejarah Singkat
Dua siswa sekolah St Luke mendirikan klub sepakbola pada 1877 dan dua tahun kemudian mereka bergabung dengan klub kriket dan sepakbola The Wanderers untuk membentuk Wolverhampton Wanderers. Klub menjadi salah satu pendiri Football League pada 1888 dan menempati peringkat ketiga klasemen akhir. Wolves juga mampu mencapai final Piala FA, meski dikalahkan Preston North End, sang juara liga.

Sempat menjuarai Piala FA 1893, Wolves beberapa kali harus turun divisi. Bahkan musim 1922/23, klub terhempas ke Divisi Tiga. Status sebagai peserta Divisi Satu kembali diraih satu dasawarsa berikutnya. Sebelum Perang Dunia II, Wolves disegani di Inggris. Pada 1938/39, mereka nyaris menjuarai liga jika tidak menderita kekalahan 1-0 dari Sunderland. Arsenal akhirnya juara musim itu. Wolves lagi-lagi menjadi runner-up musim berikutnya, kali ini di bawah Everton. Kejayaan baru tercipta pada 1950-an ketika bersama kapten Billy Wright, Wolves menyabet mahkota liga tiga kali.

Pada era itu, bermain dengan siraman lampu stadion merupakan kemewahan tersendiri. Wolves memasang lampu di Molineux pada 1953. Selama beberapa bulan berikutnya, Wolves banyak mengundang tim-tim luar negeri untuk mengadakan pertandingan persahabatan. Wolves juga mengundang FC Honvest Budapest, yang dianggap penjelmaan timnas Hungaria, Magical Magyars, salah satu tim terkuat di dunia saat itu. Wolves berhasil menang 3-2 dan pers Inggris ramai-ramai mendapuk mereka sebagai "juara dunia". Hal inilah yang kian menyemangati Gabriel Hanot, editor L'Equipe, untuk mencetuskan ide kompetisi antarklub Eropa.

Setelah menjadi runner-up Piala UEFA 1970/71, Wolves pelan-pelan melemah. Pada 1980-an klub nyaris bubar akibat kendala finansial. Untuk kali pertama Wolves tergusur ke Divisi Empat karena menderita tiga kali degradasi berturut-turut. Pada 1987, klub diselamatkan dewan kota. Kepemilikan klub mengalami perubahan dan dengan pelatih Graham Turner, Wolves mulai bangkit. Pada 1989, Wolves mampu kembali ke Divisi Dua. Salah satu pemain kunci tim saat itu adalah Steve Bull, yang total mencetak rekor 306 gol untuk klub hingga pensiun musim 1998/99. Berkat kecermelangan tersebut, Bull sempat masuk skuad timnas Inggris pada Piala Dunia 1990 sekaligus menjadi satu-satunya pemain Wolves yang menjadi pemain timnas dalam 25 tahun terakhir abad ke-20.
Catatan Prestasi
3 kali juara Liga Primer / Divisi Satu lama (1953/54, 1957/58, 1958/59)

4 kali juara Piala FA (1892/93, 1907/08, 1948/49, 1959/60)

3 kali juara Championship / Divisi Dua lama (1931/32, 1976/77, 2008/09)

2 kali juara Divisi Tiga lama (1923/24, 1988/89)

1 kali juara Divisi Empat lama (1987/88)

2 kali juara Piala Football League (1973/74, 1979/80)

1 kali juara Football League Trophy (1987/88)

4 kali juara Charity Shield (1949, 1954, 1959, 1960

Selasa, 22 November 2011

sejarah west ham united

Berdiri: 1900
Alamat: Boleyn Ground, Green Street, upton Park, London, E13 9AZ England
Telepon: 020.854.82.748
Faksimile: 020.854.82.700
Surat Elektronik: customerservices@westhamunited.co.uk
Laman Resmi: http://www.whufc.com
Ketua: David Sullivan, David Gold
Direktur: Daniel Harris, Bob Ellis
Stadion: Boleyn Ground (Upton Park)
Sejarah Singkat
Cikal bakal klub dimulai ketika para pekerja Thames Ironworks mendirikan tim sepakbola pada 1895. Tim berlaga di beberapa kompetisi amatir dan pernah menjuarai beberapa turnamen lokal. Tiga tahun berselang, klub beralih status menjadi profesional dan mulai berlaga di Divisi Dua Southern League. Pada 1899, warna seragam klub yang biru diubah menjadi paduan marun dan biru muda karena terinspirasi sukses Aston Villa, juara liga saat itu. Namun, masalah finansial menghampiri klub dan pada 1900, klub dirombak dan diluncurkan kembali dengan nama baru, West Ham United FC.

Musim 1922/23, West Ham sukses meraih promosi ke Divisi Satu Football League, kasta tertinggi kompetisi sepakbola Inggris saat itu. Tak hanya itu, West Ham juga mampu melaju ke babak puncak Piala FA, yang untuk kali pertama digelar di Wembley, dikenal dengan White Horse Final. Laga puncak tersebut dipenuhi hingga 200.000 penonton dan lapangan harus "dibersihkan" dari lautan manusia oleh seekor kuda putih bernama Billie. Sayangnya, West Ham dikalahkan Bolton Wanderers, 2-0, pada partai itu.

West Ham dianggap sebagai salah satu kunci kesuksesan Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966. Empat gol yang diciptakan Inggris di final merupakan kontribusi dua pemain West Ham, Martin Peters dan Geoff Hurst. Kapten tim saat itu, Bobby Moore, adalah seorang legenda West Ham. Namun, prestasi tim mulai menurun periode 1970-an, ketika klub harus turun naik divisi. Ketika Liga Primer digulirkan, West Ham selalu menjadi bagian dari anggota top tier kecuali dalam tiga musim. Prestasi terbaik West Ham pada periode ini adalah dengan menempati peringkat kelima musim 1998/99 saat masih ditangani Harry Redknapp.

Di Inggris, reputasi West Ham juga dikenal sebagai klub yang mencetak pesepakbola top. Sejak 1950-an, klub mendirikan pusat pembinaan pemain muda yang dibentuk manajer Ted Fenton. Hasil pembinaan tersebut menciptakan para pemain seperti Moore, Peters, dan Hurst, yang menjadi anggota tim juara dunia 1966. Pada periode selanjutnya, akademi memberikan Hammers banyak pemain ternama, seperti Trevor Brooking, Tony Cottee, Paul Ince, Rio Ferdinand, Joe Cole, Michael Carrick, Glen Johnson, hingga Frank Lampard.
Catatan Prestasi
1 kali juara Piala Winners (1964/65)

3 kali juara Piala FA (1963/64, 1974/75, 1979/80)

2 kali juara Divisi Dua lama (1957/58, 1980/81)

1 kali juara Piala Intertoto (1999)

1 kali juara Charity Shield (1964)

sejarah Norwich City

Berdiri: 1902
Alamat: Carrow Road, Norwich, NR1 1JE, UK England
Telepon: +44 (0)1603 760760
Ketua: Alan Bowkett
Direktur: Michael Foulger and Stephan Phillips
Stadion: Carrow Road
Sejarah Singkat
Di sebuah kafe, Norwich City didirikan pada 17 Juni 1902. Pertandingan pertama yang mereka mainkan terjadi 6 September 1902 dengan menghadapi Harwich & Parkeston di stadion Newmarket Road. Pada 1905, Norwich menanggalkan status amatir dan menjadi profesional. Julukan yang mereka pakai adalah Canaries karena popularitas burung kenari di kota tersebut saat itu.

Norwich baru berhasil mencicipi kasta tertinggi sepakbola Inggris pada musim 1971/72 bersama manajer Ron Saunders. Setahun berselang, untuk kali pertama mereka tampil di stadion Wembley meski kemudian dikalahkan Tottenham Hotspur 1-0 di ajang Piala Liga.

Musim 1984/85 menjadi musim yang ironi bagi Norwich. Mereka berhasil menjuarai Piala Liga, tetapi terdegradasi ke divisi satu. Rekor tersebut menjadikan Norwich sebagai klub Inggris pertama yang berhasil menjuarai sebuah piala dan terdegradasi pada musim yang sama. Catatan ini baru terulang lagi musim lalu dengan menimpa Birmingham City. Sayangnya, jatah Norwich tampil di kompetisi Eropa dibatalkan akibat Tragedi Heysel.

Salah satu musim penuh kenangan bagi Norwich terjadi pada 1992/93 atau persis pada era Liga Primer dimulai. Mendominasi liga sejak awal hingga menjelang akhir, Canaries akhirnya harus puas menempati peringkat ketiga di belakang juara Manchester United dan Aston Villa. Musim berikutnya mereka tampil di Piala UEFA dan berhasil mengalahkan Bayern Munich di kandang lawan, meski kemudian disingkirkan Inter Milan.

Musim 1994/95, Norwich terdegradasi ke divisi Championship dan baru berhasil kembali ke level tertinggi sembilan tahun berselang, 2003/04. Namun, mereka langsung terdegradasi kembali dan dimulailah periode muram bagi klub kuning-hijau ini. Musim 2008/09, setelah serangkaian kemelut kepelatihan, Norwich terempas ke divisi dua atau setingkat di bawah divisi Championship.

Muncul lah sosok juru selamat pada diri Paul Lambert. Eks pemain Norwich asal Skotlandia ini berhasil membawa Norwich menjuarai divisi dua dan kembali ke Championship pada musim debutnya. Seakan belum puas menularkan inspirasi, Lambert kembali sukses mengangkat Norwich ke divisi teratas sepakbola Inggris hanya dalam waktu dua musim!

Inspirasi seperti itu kembali dibutuhkan Norwich dalam mengatasi tantangan di Liga Primer musim ini.
Catatan Prestasi
3 kali juara Divisi Championship (1971/72, 1985/86, 2003/04)

2 kali juara Football League Divisi Dua (1933/34, 2009/10)

2 kali juara Piala Liga (1961/62, 1984/85)

sejarah Swansea City

Berdiri: 1912
Ketua: Huw Jenkins
Direktur: David Morgan, Brian Katzen, Gwilym Joseph, Martin Morgan, Huw Cooze, Steve Penny
Stadion: Liberty Stadium, Swansea
Sejarah Singkat
Swensea City Association Football Club merupakan salah satu klub profesional sepakbola yang berbasis di kota Swansea, Wales. Dibentuk pada 1912 dan bergabung dengan kompetisi Football League -- kasta kedua sepakbola Inggris di bawah Liga Primer Inggris -- sejak tahun 1921.

Sebelumnya Klub ini dikenal dengan nama Swansea Town, namun di tahun 1969, mereka mengadopsi nama Swansea City untuk merefleksikan status baru Swansea juga sebagai sebuah kota.

Dalam kurun antara tahun 1981 dan 1983, Swansea mampu merepresentasikan kekuatan mereka di Football League First Division -- nama awal kompetisi Liga Primer Inggris -- dan finis di posisi keenam dalam musim pertamanya di level tersebut sebelum pada 1992 diciptakanlah format baru dengan nama Premier League -- Liga Primer Inggris -- dengan mengklasifikasikan yang terdegradasi ke divisi dua yang disebut Championship. Sejak itu, Swansea terus berkutat di ajang kelas dua tersebut.

Pada 2005, Swansea City resmi memainkan pertandingan kandang pertama mereka di markas baru, Liberty Stadium, stadion yang juga dimiliki bersama dengan klub olahraga rugby, Ospreys Rugby Union Club, setelah sebelumnya "rumah" Swansea bermukim di Vetch Field.

Para pemuja Swansea dikenal dengan sebutan 'Jacks'. Satu alasan kuat kenapa dinamakan demikian, sebab selama abad ke-17 para pelaut yang berasal dari kota Swansea sangat dihormati dan dengan karena reputasinya yang elegan.

Tepat di musim kemarin 2010/11 setelah 29 tahun tenggelam di ajang Championship, Swensea akhirnya kembali mengalami keberhasilan besar dengan sanggup mengamankan tiket promosi ke Liga Primer Inggris melalui babak play-off setelah finis di posisi ketiga Championship. Di samping mereka naik kasta, klub berjuluk The Swans ini membuat catatan sejarah baru dengan menahbiskan diri sebagai klub asal Wales pertama yang bermain di level teratas sepakbola Inggris.

Swansea juga menjadi klub ke-45 yang berkancah di kompetisi ini sejak beralih format pada 1992.
Catatan Prestasi
1 kali juara League One (2007/08)

2 kali juara Divisi Tiga Selatan - tier 3 (1924/25, 1948/49)

1 kali juara Divisi Tiga - tier 4 (1999/00)

2 kali juara Football League Trophy (1994, 2006)

10 kali juara Welsh Cup (1913, 1932, 1950, 1961, 1966, 1981, 1982, 1983, 1989, 1991)

2 kali juara FAW Premier Cup (2005, 2006)

sejarah wigan Athletic

Periode awal (1932-1995)

Wigan Athletic Football Club didirikan pada tahun 1932 menyusul dibubarkannya Wigan Borough tahun sebelumnya. Wigan Athletic sendiri sudah merupakan upaya pendirian klub kelima setelah - Wigan County, Wigan United, Wigan Town, Wigan Rovers dan Wigan Borough yang kesemuanya bubar.



Wigan membuat sejarah ketika mereka mengalahkan Carlisle United 6-1 di babak pertama Piala FA musim 1934-1935. Itu adalah rekor kemenangan terbesar suatu klub non liga atas klub anggota liga. Rekor itu bertahan hingga kini.



Pada tahun 1978 Wigan baru menjadi anggota Football League setelah terpilih masuk mengikuti divisi 4 menggantikan Southport yang terdegradasi. Setelah itu mereka banyak menghabiskan waktunya di kompetisi divisi 3 selama 10 tahun.


Sang Penyelamat, Dave Whelan

Pada tahun 1995, seorang jutawan lokal bernama David Whelan datang untuk mengambil alih kepemilikan klub. Saat itu Wigan masih bermain di divisi 3 (divisi 4 jika ditambah liga premier). Ambisi Whelan tidak main-main, ia ingin membawa Wigan untuk masuk ke Premiership, suatu pernyataan yang banyak ditertawakan orang pada waktu itu.



Langkah pertama Whelan terwujud pada tahun 1997 kala mereka menjuarai divisi 3 dan promosi ke divisi 2 dibawah manager John Deehan. Langkah mereka di divisi 2 terbukti jauh lebih berat walaupun begitu dengan gagah mereka sempat masuk playoff beberapa kali. Pergantian manager pun bergulir dari Deehan ke Ray Mathias, John Benson, Bruce Rioch, Colin Greenall dan Steve Bruce (kembali menjadi manager mereka nantinya). Kesemuanya belum mampu mengangkat Wigan keluar dari divisi 2. Steve Bruce sendiri meninggalkan Wigan untuk menjadi manager Crystal Palace pada saat dimana Wigan hampir dekat dengan promosi, ini yang membuat fans Wigan marah dan kecewa padanya saat itu.



Paul Jewell, mantan pemain Wigan, datang mengambil alih kursi manager dari Steve Bruce pada tahun 2001. Setahun berikutnya, tepatnya pada musim 2002-2003, Wigan menjuarai divisi 2 dan promosi ke divisi 1 (championship). Musim berikutnya, debut Wigan di divisi satu 2003-2004 mengejutkan orang dan mereka meraih posisi 7 klasemen, hanya 1 rangking lagi untuk masuk zona playoff. Musim 2004-2005, Wigan semakin mantap kali ini dan mereka akhirnya mencapai posisi runner up divisi satu dan berhak atas promosi ke Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah. Mimpi Whelan pun tercapai, 10 tahun sejak dia menyatakan ambisinya.



Debut di Premiership 2005-2006 juga cukup sensasional. Mereka sempat berada di posisi runner up liga sampai bulan November 2005. Performa bagus mereka juga diikuti di ajang Piala Liga, dimana mereka menembus sampai final dimana akhirnya mereka dikalahkan Manchester United 0-4. Di liga, mereka akhirnya menduduki peringkat 10 klasemen, suatu pencapaian yang baik sekali untuk tim yang baru promosi.



Musim 2006-2007 diawali dengan penjualan pemain bintang Wigan, seperti Jimmy Bullard (ke Fulham), Graham Kavanagh (ke Sunderland), Jason Roberts (ke Blackburn) dan Pascal Chimbonda (ke Tottenham). Sebagai gantinya mereka menarik Emile Heskey, Denny Landzaat, Chris Kirkland, Antonio Valencia, Kevin Kilbane, David Cotterill, Fitz Hall dan Emmerson Boyce. Pergantian materi tim yang cukup besar membawa pengaruh dengan performa Wigan yang tidak stabil. Beruntung akhirnya mereka bisa selamat pada pertandingan terakhir liga dengan menang melawan calon degradasi lainnya, Sheffiel United, dengan skor 2-1 walaupun harus bertanding dengan 10 pemain. Dengan kemenangan itu membuat Wigan duduk di peringkat 17 liga, satu peringkat diatas zona degradasi. Pada Mei 2007, Paul Jewell mengundurkan diri dan digantikan oleh asistennya Chris Hutchings.



Musim 2007-2008, Hutchings membawa masuk pemain-pemain berpengalaman seperti Titus Bramble, Antoine Sibierski, Mario Melchiot, Carlo Nash, Jason Koumas, Michael Brown, Andreas Granqvist dan memperpanjang kontrak peminjaman Antonio Valencia. Hutchings melepas pemain seperti Arjen De Zeeuw, Henri Camara (dipinjam) dan duo favorit fans Wigan, Lee McCulloch serta Leighton Baines. Pada awal liga mereka sebetulnya sempat bermain dengan cemerlang namun kemudian performa klub mulai menurun drastis saat memasuki bulan September 2007. Dengan posisi Wigan yang terletak di zona degradasi, Hutchings akhirnya dipecat dan digantikan sementara oleh asistennya Frank Barlow. Namun performa Wigan tidaklah terangkat, mereka kalah telak 0-4 saat tandang melawan Tottenham.



Pada 19 November 2007, klub mengumumkan bahwa Steve Bruce, manager Birmingham saat itu, telah kembali menjadi manager Wigan yang baru. Bruce dikabarkan mendapatkan gaji 2 juta pounds/tahun dan mempunyai misi untuk menyelamatkan Wigan dari degradasi. Wigan juga dikabarkan harus membayar 3 juta pounds kepada Birmingham sebagai kompensasi. Di awal tugasnya Steve Bruce, Wigan seri 1-1 dengan Manchester City di kandang untuk kemudian kalah mengkhawatirkan 1-4 dari rival mereka, Bolton. Performa Wigan baru sedikit terangkat setelah itu dengan kemenangan 5-3 atas Blackburn. Dengan penampilan yang mulai stabil, akhirnya Bruce berhasil membawa Wigan duduk di posisi 14 dan selamat dari degradasi.



Musim 2008-2009 diawali Bruce dengan pembelian beberapa pemain kunci bekas klubnya, Birmingham City, yaitu : Olivier Kapo dan Daniël de Ridder. Bruce juga menarik Lee Cattermole dari Middlesbrough dan meminjam pemain bertalenta Mesir, Amr Zaki.


 

sejarah Queens Park Rangers

Queens Park Rangers Berdiri: 1882
Telepon: -
Surat Elektronik: website@qpr.co.uk
Laman Resmi: http://www.qpr.co.uk
Ketua: Tony Fernandes
Direktur: John MacDonald, Rebecca Caplehorn
Stadion: Loftus Road
Sejarah Singkat
QPR terbentuk pada 1882, sebagai gabungan dari dua tim St Jude's dan Christchurch Rangers, sedangkan nama Queens Park Rangers dipilih karena sebagian besar pemain berasal dari daerah Queen's Park di London Barat Laut. QPR baru menetap di Loftus Road pada 1917, meskipun kemudian bermain di stadion White City pada tahun 1931-33 dan musim 1962/63. Sebelum di Loftus Road, QPR bermain di hampir 20 stadion berbeda yang menjadi rekor liga hingga saat ini.

QPR berkutat di sekitar Divisi Dua dan Tiga hingga kemudian mencetak sejarah sebagai klub Divisi Tiga pertama yang menjadi juara Piala Liga pada 1966/67, saat mengalahkan West Bromwich Albion 3-2 setelah sempat tertinggal 2-0 di Wembley, yang untuk pertama kalinya menggelar final Piala Liga.

Gelar ini seperti membangkitkan QPR. Musim 1968/69 menjadi musim pertama mereka tampil di kasta tertinggi liga sepakbola Inggris. Sayangnya, mereka hanya bertahan satu musim dan kemudian ditinggalkan mantan pelatih timnas Inggris Terry Venables untuk menjadi pemain Tottenham Hotspur.

Dan setelah sempat terjerembab empat musim di Divisi Dua, manajer Dave Sexton berhasil membawa QPR menuju prestasi tertinggi di liga hingga kini, yakni peringkat dua Divisi Satu pada musim 1975/76, dengan tim yang terdiri dari tujuh pemain membela timnas Inggris, negara-negara Inggris Raya, dan Maroko. Sexton juga sempat membawa QPR ke semi-final Piala Liga dan perempat-final Piala UEFA sebelum hengkang pada 1977 dan QPR kembali ke Divisi Dua pada 1979.

Era kejayaan berikutnya berada di bawah asuhan Venables. Saat masih berada di Divisi Dua pada 1982, QPR lolos ke final Piala FA untuk pertama dan terakhir kali dalam sejarah mereka hingga saat ini, dan kemudian menjadi juara Divisi Dua di musim berikutnya 1982/83 untuk kembali ke Divisi Satu. Venables akhirnya hijrah ke Barcelona setelah QPR sukses duduk di posisi kelima dan lolos ke Piala UEFA pada musim berikutnya.

Setelah sempat tampil di final Piala Liga 1986 dan kalah dari Oxford United, QPR menjadi bagian dari tim-tim yang berlaga di musim perdana Liga Primer Inggris pada 1992/93, dan menjadi tim terbaik dari London dengan duduk di peringkat lima.

Dijualnya Les Ferdinand ke Newcastle United pada Juli 1995 menjadi awal keterpurukan QPR di akhir 1990-an dan dekade 2000. QPR terdegradasi di musim 1995/96 dan berlaga di Divisi Satu hingga 2001 hingga akhirnya terjatuh ke kasta ketiga sepakbola Inggris untuk pertama kali dalam lebih dari 30 tahun.

Kejatuhan ini diperparah dengan kebangkrutan mereka sebelum dibeli duet pebisnis Formula Satu Flavio Briatore dan Bernie Ecclestone. Investasi tambahan pada awal 2008 mencanangkan target masuk ke Liga Primer Inggris dalam empat tahun. Namun, prestasi tetap tak membaik dan manajer demi manajer bergantian menduduki Loftus Road hingga akhirnya Neil Warnock diangkat pada Maret 2010 dan mewujudkan mimpi QPR untuk tampil di Liga Primer Inggris 2011/12. Mimpi itu hampir sirna jika saja QPR dihukum pengurangan poin akibat masalah transfer Alejandro Faurlin, dan beruntung mereka hanya diganjar denda £875.000.
Catatan Prestasi
2 kali juara Divisi Championship (1982/83, 2010/11)

2 kali juara Football League Divisi Dua (1947/48, 1966/67)

1 kali juara Piala Liga (1966/67)

Sejarah Blackburn Rovers


Blackburn Rovers adalah salah satu klub tertua di Inggris dan juga merupakan salah satu pendiri 'Football League'. Didirikan tahun 1875 oleh alumni 'Shrewsbury School', John Lewis, untuk bertanding dibawah peraturan asosiasi sepakbola. John Lewis mengorganisir pertemuan untuk pendirian klub yang dihadiri oleh belasan orang alumni lain, terutama alumni 'Blackburn Grammar School'. 5 tahun berikutnya klub sepakbola itu telah menjadi klub sepakbola profesional.

Pada tahun 1890, The Rovers pindah ke markas mereka yang permanen, Ewood Park, setelah sebelumnya mereka tidak mempunyai kandang tetap. Blackburn adalah penguasa piala FA pada tahun 1884-1891, dalam 8 tahun itu saja mereka berhasil menjuarai turnamen sepakbola tertua itu dengan 5 kali. Sayangnya setelah itu mereka benar-benar tenggelam selama 30 tahun sebelum akhirnya mereka bisa memenangi piala FA tahun 1928. Itu adalah piala FA terakhirnya sampai sekarang.

Era Sir Jack Walker

Di kompetisi liga, Blackburn sangatlah miskin gelar, tidak ada satupun gelar juara liga mereka raih sampai tahun 1994. Mereka benar-benar tertidur selama 120 tahun, ketika pada tahun 1992 seorang Jack Walker, miliuner pengusaha baja, datang membawa segudang uang untuk 'membangunkan' Blackburn, klub kesayangannya sejak kecil. Jack Walker membeli Blackburn tahun 1992 ketika Blackburn masih berada di divisi II. Setelah itu tidak tanggung-tanggung dia langsung membujuk Kenny Dalglish, mantan manager Liverpool yang mengundurkan diri beberapa bulan sebelumnya. Kenny Dalglish adalah salah satu manager tersukses di Liverpool (5 gelar dalam 6 tahun memimpin si Merah) dan dia juga mantan pemain legendaris klub asal The Beatles tersebut. Dalglish setuju menangani Blackburn, dan ia juga diberikan dana besar untuk membeli pemain. Alan Shearer menjadi pemain termahal liga Inggris ketika dibeli Blackburn saat itu seharga 3.6 juta pounds dari klub Southampton. Selain Shearer, salah satu pemain terkenal lainnya adalah Chris Sutton untuk diduetkan dengan Shearer di depan dan bek tengah Colin Hendry, yang nantinya menjadi salah satu legenda Blackburn.

Dan pada puncaknya, musim 1994-1995, Blackburn menjadi kampiun Liga Inggris. Duet Shearer dengan Sutton benar-benar mematikan, orang menamai duet 'SAS', Shearer and Sutton. Dari 5 tahun yang dijanjikan oleh Dalglish untuk menjadi juara liga Inggris, dia menepatinya lebih cepat dengan hanya 3 tahun saja. Bukan pekerjaan mudah memang, karena Blackburn benar-benar klub yang baru naik ke divisi utama sewaktu dia pimpin.

Pasca Jack Walker

Namun setelah Jack Walker mengalami sakit karena kanker, Rovers juga perlahan mundur dan bahkan sempat terdegradasi dari divisi utama. Dalam kepemimpinan Graeme Souness, Blackburn juga seakan hanya menjadi klub penggembira di Premiership yang ketat. Baru setelah Mark Hughes datang, Rovers lebih bisa naik menjadi papan tengah liga Premier. Sekarang setelah Mark Hughes pergi ke Manchester City pada musim panas 2008, Paul Ince menggantikannya.

Namun ternyata Ince tidak bertahan lama, tidak sampai satu musim ia telah harus kehilangan jabatannya akibat performa Rovers yang buruk. Paul Ince dipecat dan kemudian didatangkan Sam Allardyce, mantan Bolton yang sukses mengangkat The Trotters menjadi klub yang disegani di Premiership. Situs Resmi Blackburn Rovers

sejarah stoke city


Stoke City Football Club dikenal sebagai klub tertua kedua di Inggris, dibentuk pada tahun 1863 dibawah nama Stoke Ramblers oleh para murid sekolah Charterhouse. Pertandingan awal mereka yang sempat terdokumentasi adalah pada 1868 melawan EW Mary XV di lapangan kepunyaaan Victoria Cricket Club. Henry Almond, pendiri klub yang juga bermain sebagai kapten, secara kebetulan juga merupakan pencetak gol pertama klub dalam sejarah. Pada tahun 1875, mereka pindah markas ke lapangan dekat Sweetings Field karena jumlah penonton yang sudah meningkat banyak.

Pada tahun 1878, klub ini merger dengan Stoke Victoria Cricket Club dan nama klub pun disederhanakan menjadi Stoke Football Club. Mereka juga pindah lagi dari Sweetings Field ke markas baru, lapangan kepunyaan Atletic Club, yang nantinya dikenal dengan stadion Victoria Ground. Pada saat itu juga mereka telah mempunyai kaus berwarna merah-putih yang bertahan sampai sekarang. 15 tahun setelah itu, Agustus 1885, Stoke berubah status menjadi klub sepakbola profesional.

Stoke merupakan salah satu dari 12 kub pendiri Football League pada tahun 1888. Pada 2 musim pertama, 1888-1889 dan 1889-1890, mereka hanya finis di urutan bawah liga. Pada saat Perang Dunia I berkecamuk, liga dihentikan selama 4 tahun, Stoke mengisi waktu dengan ikut dalam liga Lancashire Primary and Secondary.

Stoke menjadi pemilik markas mereka sendiri, Victoria Ground, pada tahun 1919. Pada tahun itu juga Victoria Ground diperbesar kapasitasnya dengan pembangunan tribun Butler Street, yang akhirnya membuat kapasitas total stadion menjadi 50.000 penonton.

Pada tahun 1925, pemerintah kota Stoke-on-Trent mendaulat klub sebagai klub kebanggaan kota tersebut, dan karenanya klub merubah namanya menjadi Stoke City Football Club.

Stanley MatthewsPada awal dekade 30’an adalah masa dimana Stanley Mathews bermain. Pemain yang berposisi sebagai sayap ini berkembang di Stoke dan masuk menjadi anggota timnas Inggris. Ia menjadi pemain legendaris Stoke dan Inggris; termasuk salah satu pemain terbaik di masanya. Prestasi Stoke sendiri baru mencuat pada tahun 1934 kala mereka dianggap sebagai salah satu klub papan atas liga. Di tahun tersebut pula Stoke membuat rekor kemenangannya yang terbesar, 10-3, atas West Bromwich. Rekor jumlah penonton terbanyak Stoke adalah 51.373 orang pada tahun 1937 pada pertandingan melawan Arsenal.

Pasca Perang Dunia II (1946-1953)

Perang Dunia memaksa kompetisi liga untuk berhenti selama 6 tahun. Musim kompetisi dimulai pada 1946-1947, saat itu Stoke nyaris menjuarai liga jika saja mereka mereka bisa menang pada partai terakhir. Sayangnya Stoke malah kalah 1-2 dari Sheffield United dan gelar juara liga pun melayang ke Liverpool. Pada musim itu pula Stanley Matthews pindah ke Blackpool saat liga menyisakan 3 pertandingan. Musim 1952-1953, Stoke terdegradasi ke divisi 2 dan managernya, Bob McGory, mundur setelah 17 tahun mengabdi.

Era Tony Waddington (1960-1977)

Tony Waddington ditunjuk menjadi manager klub pada Juni 1960 setelah sebelumnya menjabat asisten manager klub. Waddington membuat keputusan penting dengan menarik kembali Stanley Matthews untuk bermain di Stoke setelah 14 tahun meninggalkan klub.

Umur Mathews sendiri kala itu telah mencapai 46 tahun ! Kembalinya Mathews langsung berpengaruh pada kemajuan klub untuk bisa mencapai posisi 8 pada musim 1961-1962. Setahun kemudian, musim 1962-1963, Stoke menjuarai divisi 2 sekaligus promosi ke divisi satu.

Stanley Matthews age 50Musim 1963-1964, Stoke tampil baik di divisi satu dan mampu duduk di papan tengah klasemen. Peran Matthews saat itu penting sekali sehingga mereka mampu masuk ke final Piala Liga walaupun kalah dari Leicester City. Pada tahun 1965, Stanley Mathews yang berumur 50 tahun, mendapatkan pengahargaan ‘Knighhood’ dari kerajaan Inggris menyangkut pengabdiannya pada sepakbola. Penghargaan itu diberikan sebelum ia tampil ke 701-kalinya, yang juga merupakan penampilannya yang terakhir untuk klub.

Gordon Banks, pahlawan Piala Dunia 1966 Inggris, bergabung dengan Stoke City dengan biaya transfer £52.000 dari Leicester City. Dikenal sebagai kiper terbaik dunia pada waktu itu, peran Banks terbukti penting dalam menjaga kestabilan penampilan klub di divisi satu.

Stoke kemudian menjuarai gelar pentingnya yang pertama, Piala Liga, pada 4 Maret 1972. Di final Wembley didepan 97.852 penonton, mereka sukses menggulingkan favorit juara, Chelsea, dengan skor 2-1.

Januari 1976, stadion Victoria Ground terbakar di salah satu tribunnya, dengan beaya perbaikan yang mencapai £250.000. Harus mengeluarkan dana yang begitu besar membuat klub kehabisan dana. Pemain bintang seperti Alan Hudson, Mike Pejic dan Jimmy Greenhoff dijual dengan total £440,000. Dengan keadaan tim yang compang camping, Stoke tidak bisa menghindar lagi dari degradasi pada musim 1976-1977. Waddington pun akhirnya meninggalkan klub setelah 17 tahun mengabdi.

Periode 1977-1997

Stoke baru dapat promosi ke divisi satu lagi pada musim 1978-1979 dibawah manager Alan Durban. Stoke kemudian bertahan di divisi satu sampai musim 1984-1985, dimana mereka terdegradasi setelah hanya bisa menang 3 kali sepanjang liga dan mengumpulkan 17 poin. Setelah itu Stoke terus merosot dan benar-benar hanya menjadi klub divisi kelas bawah Inggris.
Britannia Stadium dan Kedatangan Grup Islandia Musim 1997-1998, Stoke pindah ke markas barunya, The Brittania Stadium, setelah 119 tahun mendiami Victoria Ground. Brittania Stadium mempunyai 2 sudut yang ditutup dengan tribun corner dan 2 yang terbuka. Di luar stadion ada sebuah monumen untuk mengenang Stanley Mathews, pemain terbaik Stoke sepanjang sejarahnya.

Pada tahun 1999, saham Stoke Citydibeli sebanyak 66.6% oleh sebuah konsorsium asal Islandia dengan nilai £6,6 juta. Gary Megson yang saat itu menangani klub harus angkat kaki karena pemilik baru klub akan menunjuk Gudjon Thordarson sebagai manager baru Stoke City. Thordarson kemudian berjasa membawa Stoke untuk promosi ke divisi 2 pada musim 2000-2001, namun tidak lama setelah kepastian promosi, Thordarson dipecat chairman Stoke, Gunnar Gislason, dan digantikan Steve Cotterill.

Diambil alih Peter Coates

Pada 23 Mei 2006, Peter Coates, mantan chairman Stoke City periode 1989-1977 dan bos perusahaan judi Bet365, datang mengambil alih klub. Coates kemudian menunjuk Tony Pulis, mantan manager Stoke 2002-2005, untuk menangani klub. Di musim pertama setelah comebacknya, Pulis membawa Stoke duduk di peringkat 8 divisi championship.

Stoke akhirnya promosi ke Premiership pada musim berikutnya, 2007-2008, dengan menjadi runner up divisi championship. Situs Resmi Stoke City Fc

sejarah newcastle united


Newcastle United dibentuk pada Desember 1892, hasil dari peleburan 2 klub lokal-Newcastle East End dan Newcastle West End. Kedua klub itu tadinya ada rival berat di Northern League, setelah West End mengalami masalah finansial mereka sepakat untuk meleburkan diri. Deal persatuan 2 klub itu mengikutkan pula kandang West End, St. James' Park. Beberapa nama kandidat untuk klub baru tersebut mencuat seperti Newcastle Rangers dan Newcastle City, namun mereka akhirnya sepakat untuk menggunaka nama Newcastle United. Newcastle United memenangkan gelar juara liga pertamanya pada 1905, untuk kemudian menyusul tahun 1907 dan 1909.

Mereka juga sukses masuk final Piala FA tahun 1905, 1906, 1908, 1910 dan 1911. Tetapi dari 5 kali final tersebut mereka hanya memenangkan satu kali, yaitu pada tahun 1910. Newcastle mempunyai kenangan terburuknya pada musim 1908-1909 ketika mereka dipermalukan 1-9 oleh musuh abadinya, Sunderland. Skor itu tetap menjadi rekor kemenangan terbesar Sunderland sampai sekarang.

The Toon Army seterusnya menjuarai Piala FA untuk kedua kalinya pada tahun 1924 dengan mengalahkan Aston Villa. Gelar juara liga keempatnya diraih pada tahun 1927, itu adalah juga gelar juara liga terakhir yang dapat mereka raih. Pemain bintang legendaris pada saat itu adalah sang kapten Hughie Gallacher, Neil Harris, Stan Seymour dan Frank Hudspeth.

Selama dekade 50’an United sukses menjuarai Piala FA 3 kali, yaitu pada tahun 1951 dengan mengalahkan Blackpool 2-0, setahun kemudian (1952) mengalahkan Arsenal 1-0 dan pada tahun 1955 dengan mengalahkan Manchester City 3-1. Pemain bintang saat itu adalah Jackie Milburn dan Bobby Mitchell.

Setelah itu Newcasle tenggelam karena performanya yang sering labil sehingga sempat terdegradasi ke divisi 2. Pada tahun 1965 mereka dapat menjuarai divisi 2 dengan manager yang juga bekas pemain legendarisnya, Joe Harvey dan Stan Seymour.

Joe Harvey Newcastle TriumphJoe Harvey kemudian membawa klubnya lolos kualifikasi Eropa untuk pertama kalinya pada tahun 1968. Mereka mengejutkan Eropa dengan menjuarai Piala Fairs (sekarang menjadi Piala UEFA) dengan mengalahkan tim-tim seperti Sporting Lisbon, Feyenoord, Real Zaragoza dan Glasgow Rangers di penyisihan. Di final, mereka mengalahkan wakil Hungaria, Ujpest FC. Saat itu Newcastle mempunyai tradisi pada nomor punggung 9 yang selalu diberikan pada striker suburnya, untuk waktu itu adalah Wyn Davies yang memakai nomor punggung keramat tersebut. Setelah sukses di eropa tersebut Harvey kemudian mendatangkan pemain bertalenta hebat lainnya bagi Newcastle, seperti Jimmy Smith, Tony Green, Terry Hibbit dan terutama striker Malcolm Macdonald yang nantinya menjadi pemain favorit klub dan melegenda sampai sekarang. Newcastle berhasil masuk final Piala FA tahun 1974 dan Piala Liga tahun 1976, namun mereka gagal untuk membawa pulang piala di kedua upaya tersebut.

Dekade 80’an

Kevin Keegan Newcastle PlayerAwal 1980, Newcastle tenggelam dan jatuh ke divisi 2. Gordon Lee kemudian menggantikan Harvey, namun Lee tidak mampu membawa klubnya keluar dari divisi 2. Baru setelah Arthur Cox menjadi manager, United bisa promosi kembali ke divisi satu dengan diperkuat mantan kapten tim nasional Inggris, Kevin Keegan (inset kiri). United mulai kembali bermain di kompetisi divisi satu dan bertahan 7 tahun. Pergantian manager pun bergulir dari Jack Charlton, Willie McFaul dan Jim Smith. Dan pada tahun 1989, mereka terdegradasi lagi ke divisi 2.

Kembalinya Kevin Keegan I

Kevin Keegan Newcastle 1992Setelah ditangani oleh legenda Spurs yang juga mantan pemain nasional Argentina, Osvaldo Ardilles, Kevin Keegan, mantan legenda Newcastle, datang untuk menggantikannya pada tahun 1992. Kontrak Keegan saat itu adalah hanya kontrak jangka pendek tetapi menangani Newcastle baginya merupakan satu-satunya hal yang bisa membuatnya kembali ke dunia sepakbola. Tetapi Newcastle saat itu sedang dalam situasi gawat karena sudah hampir terdegradasi ke divisi 3, yang jika terjadi maka itu menjadi sejarah terburuknya Newcastle dimana mereka tidak pernah jatuh sampai ke divisi 3. Beruntung Newcastle bisa selamat berkat kemenangan di dua pertandingan terakhir melawan Portsmouth di kandang dan Leicester di tandang.

Di tahun tersebut pula Newcastle berganti kepemilikan ke Sir John Hall.

Musim 1992-1993, Newcastle kali ini benar-benar mengamuk dan memenangkan 11 pertandingan awal berturut-turut. Mereka bermain dengan strategi menyerang yang menarik dan akhirnya mereka keluar sebagai juara divisi 2 dan promosi ke Premier League. Musim

1994-1995, tetap dibawah Keegan yang mempunyai filosofi sepakbola menyerang, Newcastle tampil cemerlang di Premiership. Media televisi Sky sampai menjuluki mereka sebagai Sang Penghibur. Pada akhir musim mereka menjual strikernya, Andy Cole, ke Manchester United. Mereka mengakhiri musim dengan posisi ke 6, menakjubkan untuk klub yang baru promosi.

Musim 1995-1996, dengan uang hasil penjualan Cole, Keegan kemudian memperkuat Newcastle melalui pembelian pemain hebat seperti David Ginola dan Les Ferdinand. Mereka pun nyaris menjuarai Premier League jika saja tidak digagalkan oleh pasukan Ferguson, Manchester United. Padahal Newcastle sudah sempat memimpin dengan perbedaan 12 poin. Salah satu pertandingan yang sangat menarik adalah pada pertandingan melawan Liverpool yang berkesudahan 3-4. Pertandingan itu diyakini orang sebagai salah satu pertandingan paling menarik sepanjang sejarah liga Inggris. Newcastle akhirnya hanya duduk di posisi ke 2 dibawah
Manchester United.

Alan Shearer NewcastleAwal musim 1996-1997, Newcastle membuat gempar Inggris dengan pembelian striker timnas, Alan Shearer, seharga 15 juta pounds dari Blackburn Rovers. Sebuah rekor pemain termahal saat itu. Januari 1997, atau pada pertengahan musim 1996-1997, Keegan membuat kaget fans Newcastle kala ia mengumumkan pengunduran dirinya. Keegan mundur meninggalkan misteri.

1997 - Januari 2008

14 Januari 1997, Kenny Dalglish didatangkan ke Newcastle. 20 tahun yang lalu, Dalglish pula yang menggantikan Keegan di Liverpool saat keduanya masih menjadi pemain. Dalglish membawa Newcastle menjadi runner up liga kembali. Musim 2007-2008, Newcastle tampil tidak begitu meyakinkan dan hanya duduk di posisi ke 13. Banyak yang melihat bahwa itu dikarenakan kurang adanya kecocokan antara bekas pemain pilihan Keegan dengan Dalglish. Kenny Dalglish kemudian dipecat chairman Freddie Shepperd.

Ruud Gullit kemudian ditunjuk untuk menggantikan Dalglish. Gullit tidak membawa kemajuan bagi Newcastle dan bahkan berselisih paham dengan pemainnya, Robert Lee dan striker kesayangan fans, Alan Shearer. Sebelum akhir musim 1999-2000. ia mundur dan digantikan oleh mantan manager timnas Inggris, Sir Bobby Robson.

Bobby Robson NewcastleRobson menangani Newcastle dengan gaji yang termasuk kecil, walaupun kecewa tapi ia tetap menerimanya. Sir Bobby Robson memulai tugasnya dengan baik sekali, pada pertandingan pertamanya ia bisa membawa Newcastle (klub sedang berada di papan bawah klasemen) menang 8-0 atas Sheffield Wednesday. Sebuah rekor kemenangan kandang Newcastle sampai saat ini. Newcastle kemudian bisa mencapai posisi ke 11 di akhir musim. Pada akhir tahun 2000, pihak FA sempat meminta pada pihak Newcastle untuk memperbolehkan Robson menangani timnas Inggris kembali sebagai caretaker, namun Shepperd menolaknya. Musim 2001-2002, Robson menuntun Newcastle dari bawah sampai mencapai posisi 4 klasemen. Musim 2002-2003, Newcastle naik lagi menjadi posisi 3 di akhir musim dan berhak ikut dalam Champions League. Musim 2003-2004, Newcastle yang masih dibawah Robson mencapai posisi 5 klasemen. Peluang untuk tampil di babak grup Liga Champions melayang setelah mereka kalah di kualifikasi grup. Di awal musim 2004-2005, Robson dipecat Shepperd, chairman Newcastle, dengan alasan klub berada di posisi bawah klasemen dan adanya ketidak harmonisan di ruang ganti pemain. Walaupun dipecat, fans Newcastle tetap menghargainya sampai sekarang.

Graeme Souness, mantan pemain dan manager Liverpool, menggantikan posisi Robson. Tapi ia tidaklah populer di mata fans dan terbukti kurang mampu membawa kemajuan bagi Newcastle. Souness sempat membawa Michael Owen ke Newcastle dengan rekor transfer 16 juta pounds dari Real Madrid. Pada tangggal 2 Febuari 2006, Souness dipecat dan digantikan oleh Glenn Roeder.

Glenn Roeder mulai menangani Newcastle saat liga musim 2005-2006 telah berjalan separuh lebih. Toon Army menutup musim dengan posisi 7 klasemen dan Alan Shearer pensiun dengan rekor gol 206 melewati rekor sebelumnya yang ditorehkan Jackie Milburn.

Roeder kemudian mundur pada akhir musim 2006-2007 setelah Newcastle kembali tampil mengecewakan dan duduk di posisi 13 klasemen.

Sam Allardyce, mantan manager Bolton yang sukses membawa Bolton dari klub papan bawah menjadi klub kuda hitam Premier League, ditunjuk untuk menggantikan Roeder pada 15 Mei 2007. Ini adalah kali terakhir pula Freddy Shepperd menjadi chairman sebelum ia menjual sahamnya kepada Mike Ashley. Posisi chairman ditugaskan pada Chris Mort. Walaupun membawa angin segar perubahan pada klub pada awalnya, Allardyce mundur pada 9 Januari 2008, atau hanya kurang dari 8 bulan setelah ia mulai menangani Newcastle.

Kembalinya Kevin Keegan II & Konflik Klub

Kevin Keegan, pilihan populer fans Newcastle, menerima tugas untuk menangani Newcastle kembali pada 16 Januari 2008. Ini adalah 11 tahun sejak Keegan menjadi manager Newcastle terakhir. Setelah penunjukan Keegan, klub dibawah pemilik baru itu juga menunjuk Dennis Wise (mantan pemain Chelsea dan manager Leeds) untuk duduk di posisi Direktur Sepakbola, Tony Jimenez sebagai Wakil Presiden Klub (berwenang dalam transfer pemain) dan Jeff Vetere sebagai Technical Co-ordinator. Sistem managemen model tersebut memang banyak diterapkan banyak klub di luar Inggris. Jadi misalnya dalam urusan transfer pemain, Wise dan Vetere harus menyetujui profil calon pemain sebelum Jimenez melakukan deal transfer pemain.

Namun pada prakteknya, Keegan merasa bahwa wewenangnya sebagai manager klub terganggu dengan adanya posisi direktur sepakbola (Wise) dan Teknikal Koordinator (Vetere). Pilihan pemain seakan sudah bukan di tangannya dan ini tentunya mempengaruhi rencana dan pekerjaannya sebagai manager klub. Tidak lama setelah akhir jendela transfer I ditutup, tepatnya 4 September 2008, Keegan memutuskan untuk mundur dari Newcastle. Hanya 232 hari semenjak ia mulai menangani klub. Pada pertandingan kandang melawan Hull, 13 September 2008, fans Newcastle berdemo dan berunjuk rasa pada klub, khususnya pada Mike Ashley dan Dennis Wise.

Beberapa hari setelah itu, Ashley mengumumkan bahwa ia akan menjual klub. Ia berkilah bahwa ia tidak membeli Newcastle demi keuntungan. Ia pun mengatakan bahwa ia tidak dapat membiayai klub lagi. Newcastle tampaknya akan berpindah tangan kembali dan Ashley akan mendapatkan keuntungan luar biasa dari penjualan Newcastle. Pada September 2008, Joe Kinnear diangkat menjadi manager sementara sampai Newcastle bisa terjual kepada investor baru. Kinnear saat itu hanya menandatangani kontrak sementara selama 10 minggu. Dan Newcastle belum juga laku terjual selama selang waktu tersebut dan Ashley kemudian mengumumkan bahwa ia membatalkan niat untuk menjual klub.

Ashley lalu mengumumkan bahwa ia tertarik untuk mengontrak Kinnear secara permanen. Namun malangnya mantan manager Wimbledon tersebut menderita sakit jantung yang harus membuatnya istirahat sementara dari semua tugas manajerial di Newcastle. Dan kemudian secara mengejutkan pada April 2009, idola fans Newcastle Alan Shearer diangkat menjadi manager. Saat itu musim telah hampir saja berakhir dan Newcastle berada di posisi yang mengkhawatirkan di liga. Akhir musim 2008-2009 ditandai dengan terdegradasinya Newcastle United setelah 16 tahun berada di divisi satu Liga Inggris.

Pada pertandingan terakhir yang menentukan, Magpies kalah 1-0 dari Aston Villa. Dan Ashley kini kembali mengumumkan bahwa klub Newcastle dijual dengan harga £100 juta.

Pada Oktober 2009, Keegan memenangkan tuntutannya setelah ia merasa dipecat tanpa kompensasi pada tahun sebelumnya. Ia memenangkan tuntutannya dan Ashley harus membayar £2 juta lebih kepada mantan managernya. Jumlah tersebut sebetulnya jauh lebih kecil dari tuntutan pertama Keegan sebesar £25 juta.

Walau kemudian Keegan menyatakan dirinya siap untuk menjadi manager Newcastle untuk ketiga kalinya, tetapi ia mengakui juga bahwa fans Newcastle tampaknya telah tidak menghendakinya kembali. Dan pada Oktober 2009 tersebut Chris Hughton diangkat menjadi manager Newcastle yang baru. Situs Resmi Newcastle United

sejarah fulham


Fulham awalnya adalah sebuah klub sepakbola amatir bernama Fulham St. Andrew’s Church Sunday School, dibentuk tahun 1879 oleh umat gereja ‘Church Of England’ di Star Road, West Kensington. Klub ini memenangi kejuaraan amatir ‘West London Amateur Cup’ pada tahun 1887. Kemudian nama klub yang panjang dipangkas menjadi ‘Fulham’ saja dan nama baru ini mulai dipakai tahun 1888.

Mereka menjuarai liga amatir ‘West London League’ di tahun 1893. Kandang Fulham sendiri, Craven Cottage, mulai dipakai sejak tahun 1896.

Fulham mendapatkan status sebagai klub sepakbola profesional pada 12 Desember 1898, tahun yang sama dimana mereka mulai mengikuti kompetisi Southern League divisi 2. Dan mereka mulai masuk sebagai anggota Football League setelah mereka menjuarai untuk kedua kalinya Southern League. Fulham terus berkutat di divisi ‘bawah’ liga Inggris sampai pada tahun 1949 dimana mereka berhasil promosi ke divisi utama. Namun di divisi utama prestasi Fulham tidaklah baik, mereka hanya menempati papan bawah. Pada 1952 mereka terdegradasi lagi ke divisi 2 dan bertahan 7 tahun lamanya disana. Tahun 1959 barulah mereka bisa mencicipi lagi kompetisi divisi utama dan kali ini mereka bertahan lama hingga 9 tahun.

Pemain legendaris Fulham di masa itu adalah Johny Haynes yang mungkin juga merupakan pemain paling besar sepanjang sejarah Fulham, bermain selama 18 tahun , 657 penampilan dan pernah mewakili tim nasional Inggris sebanyak 52 kali (22 kali diantaranya menjadi kapten timnas).

Revolusi Al Fayed

Dari 1968 sampai 2001 Fulham benar-benar tidak pernah merasakan lagi divisi satu liga. Namun pada tahun 1997 seorang miliuner berdarah Mesir, Mohamed Al-Fayed, datang membeli Fulham, ketika itu Fulham masih berada di divisi 3. Manager Micky Adams kemudian dipecatnya dan mengangkat Ray Wilkins menjadi penggantinya. Kevin Keegan juga ditarik menjadi Direktur Operasional klub. Al Fayed langsung mencanangkan target 5 tahun masuk divisi premier. Setelah adanya perselisihan paham soal pemilihan tim utama, Ray Wilkins mundur pada Mei 1998 dan Al Fayed memberikan posisi manager sepenuhnya kepada Kevin Keegan. Keegan mulai menangani klub saat berada divisi 3 dan menorehkan rekor yang cukup mencengangkan, mereka meraup 101 poin dari kemungkinan 138 poin. Tidak beberapa lama Keegan diangkat menjadi manager tim nasional Inggris, Paul Bracewell didatangkan untuk menggantikannya.

Tetapi Bracewell tidak bertahan lama, ia dipecat pada tahun 2000, dimana Fulham sudah berada di divisi championship (satu divisi dibawah Liga Premier). Al Fayed kemudian mengontak bekas pemain legendaris Perancis, Jean Tigana, untuk melatih Fulham. Tigana datang dan membawa serta beberapa pemain muda yang bertalenta, salah satunya adalah Louis Saha. Saha mencetak 90 gol dari 46 kali penampilannya saat itu dan membawa Fulham promosi ke Liga Premier untuk pertama kalinya sejak tahun 1968.

Target 5 tahun masuk Liga Premier pun dicapai lebih cepat dengan hanya 4 tahun saja. Pada tahun itu pula kapten tim, Chris Coleman, mengalami kecelakaan lalu lintas dan terpaksa harus gantung sepatu.

Debut Dan Bertahan Di Premiership

Pada awal musim 2001, media Inggris secara mengejutkan menempatkan Fulham sebagai calon klub yang bisa menghuni papan tengah liga. Bahkan ada yang menempatkan mereka sebagai calon juara liga. Namun di luar pengharapan yang terlalu tinggi itu, pada akhirnya Fulham menempati urutan ke 13 Premiership, tetapi sesungguhnya itu sudah termasuk pencapaian yang bagus bagi sebuah tim promosi.

Musim berikutnya Fulham mulai labil dan terancam degradasi. Al Fayed yang mulai tidak sabar langsung memberitahukan Tigana bahwa kontraknya tidak akan diperpanjang di akhir musim. Penampilan Fulham justru semakin terseok setelah pemberitahuan itu dan setelah kekalahan telak 0-4 dari Blackburn, Tigana langsung meninggalkan klub lebih cepat karena dipecat oleh Al Fayed.

Selama memegang Fulham, Tigana sempat membuat rekor pembelian Steve Marlet dari Lyon seharga 11,5 juta pounds. Marlet justru menjadi kartu mati Fulham dengan penampilan mengecewakannya. Ia hanya tampil 53 kali selama 3 tahun dan mencetak 11 gol.

Setelah kepergian Tigana, Chris Coleman ditunjuk menjadi pelatih sementara saat Fulham sudah benar-benar di ujung degradasi.

Dengan hanya menyisakan 5 partai, Coleman bisa membawa Fulham meraup 10 angka dari kemungkinan 15 angka. Fulham pun selamat dari degradasi. Karena penampilan awal yang impresif, Coleman kemudian diberikan jabatan penuh sebagai manager.

Musim 2003-2004, dengan media dan bandar taruhan menempatkan mereka sebagai calon degradasi, Coleman membuat prestasi gemilang dengan memimpin Fulham untuk mencapai rangking ke 9 liga. Padahal waktu itu Fulham sedang dirundung masalah keuangan yang menyebabkan Louis Saha dijual ke Manchester United dengan rekor transfer 13 juta pounds.

Ranking ke-9 itu adalah pencapaian tertinggi Fulham saat itu di liga Premier.

Musim 2004-2005, Fulham kembali mampu bertahan di Premiership dengan mencapai urutan ke-13. Musim 2005-2006 yang berat dilalui Fulham dengan penampilan labil, mereka bisa kalah telak 1-6 dari West Bromwich tetapi juga mampu mengejutkan dengan menang atas juara bertahan Chelsea 1-0. Pada akhir musim, Fulham menempati tangga ke 12 liga, naik satu tingkat dibanding musim sebelumnya. Musim 2006-2007 ditandai dengan dipecatnya Coleman karena penampilan buruk Fulham. Lawrie Sanchez datang untuk menggantikannya. Sanchez sebetulnya tidaklah mampu membawa angin segar tetapi keberuntungan berpihak padanya sehingga Fulham selamat dari degradasi. Musim 2007-2008 pun tidaklah berbeda, klub London itu terus berkutat di zona degradasi.

Sanchez dipecat dan Al Fayed kali ini menunjuk manager berdarah Inggris yang justru hampir sebagian besar karir manajerialnya ada di luar Inggris, Roy Hodgson. Lewat manager yang sempat menangani Inter Milan tersebut The Cottagers kembali terselamatkan dari degradasi dengan menang pada saat-saat akhir liga, yaitu melawan tuan rumah Portsmouth yang menentukan. Situs Resmi Fulham Fc

sejarah everton

Everton Berdiri: 1878
Alamat: Goodison Park, Liverpool L4 4EL England
Telepon: 0151.330.22.00
Faksimile: 0151.286.91.12
Surat Elektronik: everton@evertonfc.com
Laman Resmi: http://www.evertonfc.tv
Ketua: Bill Kenwright
Direktur: Robert Earl
Stadion: Goodison Park
Sejarah Singkat
Everton menjadi klub yang paling lama bermain di divisi teratas kompetisi sepakbola Inggris. Musim ini menjadi musim ke-107 bagi Everton dan klub asal Merseyside ini sudah tampil sejak Liga Primer dipentaskan pada 1992 lalu. Everton berdiri sejak 1878 dan ikut mendirikan The Football Lague sepuluh tahun kemudian. Tak butuh waktu lama untuk mencicipi kesuksesan pertama. Pada 1891, Everton sukses merengkuh gelar liga pertama. Setelah lima gelar liga dan dua trofi Piala FA kemudian, Everton mandek dan baru bangkit pada 1960an. Dua gelar liga dan satu trofi Piala FA menjadi buah kesuksesan periode tersebut.

Pada pertengahan 1980an, Everton kembali menikmati periode keemasan. Bersama manajer Howard Kendall, Toffees meraih dua gelar liga dan satu trofi Piala FA lagi. Gelar domestik dilengkapi dengan trofi Piala Winners 1984/85, satu-satunya gelar Eropa yang pernah direngkuh Everton hingga saat ini. Sayangnya, kejayaan domestik tersebut tidak bisa ditularkan ke Eropa karena insiden Heysel. Tragedi mengerikan itu membuat klub-klub Inggris diasingkan dari kompetisi Eropa selama lima tahun. Everton pun gagal memperoleh peluang mengulangi sukses tim-tim Inggris di kejuaraan antarklub Eropa selama periode 1980-an.

Ketika larangan tersebut dicabut UEFA dan Inggris memasuki era Liga Primer, prestasi Everton mulai menurun. Terkecuali menjuarai Piala FA 1994/95, status Everton lebih lekat sebagai tim semenjana. Setidaknya kehadiran manajer Joe Royle saat itu sempat membuat klub disegani dan Everton sukses menduduki peringkat keenam Liga Primer musim 1995/96. Penampilan Everton kembali menurun, hingga akhirnya David Moyes datang. Manajer asal Skotlandia ini menyelamatkan Everton dari ancaman degradasi musim 2001/02. Lambat laun, tangan dingin Moyes mengangkat kembali penampilan tim. Selama empat tahun terakhir, Everton stabil di zona Eropa klasemen. Stabilitas tersebut membuat Everton disegani tim-tim lain, apalagi sepanjang Moyes masih berada di bangku cadangan tim.
Catatan Prestasi
9 kali juara Liga Primer / Divisi Satu lama (1890/91, 1914/15, 1927/28, 1931/32, 1938/39, 1962/63, 1969/70, 1984/85, 1986/87)

1 kali juara Piala Winners (1984/85)

5 kali juara Piala FA (1905/06, 1932/33, 1965/66, 1983/84, 1994/95)

1 kali juara Liga Championship / Divisi Dua lama (1930/31)

9 kali juara Charity Shield (1928, 1932, 1963, 1970, 1984, 1985, 1986, 1987, 1995)

Sejarah Aston Villa Fc


Aston Villa Football Club' dibentuk tahun 1874 oleh anggota perkumpulan kriket 'Villa Cross Wesleyan Chapel' di Aston, kota Birmingham. Sebetulnya mereka membentuk klub ini pada awalnya hanyalah untuk mengisi waktu dengan olahraga lain di musim dingin. Maksud lainnya adalah agar tetap bugar di bulan-bulan musim dingin, tanpa sengaja mereka telah membentuk suatu klub yang bertahan hingga 100 tahun lebih dan memenangkan banyak gelar di kemudian hari.

Klub ini memenangkan piala Fa untuk pertama kali tahun 1887, dimana sepakbola kala itu mulai menjadi olahraga profesional. Namun direktur Aston Villa kala itu, William McGregor ingin klubnya berkompetisi dalam suatu liga seperti liga baseball Amerika, oleh karena itu ia menyurati ke-12 klub papan atas di Inggris kala itu untuk merencakan bersama suatu format liga.

Alasannya mengapa nama liga tersebut 'Football League' atau Liga Sepakbola saja bukan Liga Sepakbola Inggris adalah karena McGregor berencana untuk mengikut sertakan klub Skotlandia dan Wales. Aston Villa langsung menduduki posisi runner-up di pembukaan 'Football League' atau Liga Sepakbola tersebut. Dan terus sampai 1920 saja Aston Villa sudah 6 kali menjuarai Liga dan 6 kali pula menjuarai piala FA. Setelah tahun 1920 adalah periode suram Villa dimana mereka tidak pernah menjuarai satu gelar pun sampai tahun 1957 dimana mereka menjuarai lagi piala FA.

Warna kebangsaan klub ini di kausnya adalah Claret / merah keungu-unguan (merah maron) dipadukan dengan warna biru langit / biru muda. Kaus kaki berwarna Merah Maron dengan strip biru langit. Ini adalah warna yang terus dipertahankan dan sudah lekat menjadi warna kebanggaan Aston Villa. Klub Inggris lainnya yang mempunyai warna kebanggaan yang mirip adalah West Ham United dan Burnley.

Aston Villa adalah satu dari 4 klub Inggris yang pernah menjuarai Piala Champions Eropa. Mereka menjuarainya pada 26 Mei 1982 mengalahkan Bayern Muenchen, melalui gol ... Peter Withe. Peter Withe yang sama menjadi pelatih tim nasional Indonesia beberapa waktu silam. Dalam sejarah Villa, dia adalah merupakan salah satu pemain legendaris Villa.Situs Resmi Aston Villa

sejarah sunderland


Periode Awal : Rivalitas Sunderland Albion (1879-1892)

Sejarah Sunderland dimulai kala James Allen, seorang guru sekolah di Sunderland, membentuk tim sepakbola khusus guru di daerah Sunderland yang bernama "Sunderland & District Teachers Association Football Club" pada Oktober 1879. Klub tersebut kemudian merubah namanya menjadi Sunderland Association Football Club, mengindikasikan bahwa klub tersebut kini memperluas keanggotaannya untuk umum. Tujuannya adalah supaya klub bisa memiliki cukup dana dan memperbesar sumber stok pemain yang baik.

Selang beberapa tahun kemudian, James Allen, sang pendiri Sunderland sendiri, merasa bahwa arah klub sudah terlalu komersil dan ia tidak setuju dengan cara klub dijalankan. Puncaknya , pada tahun 1888, Allen bersama sejumlah pengurus lain yang merasa tidak cocok keluar dari Sunderland AFC dan mereka membentuk klub tandingan bernama Sunderland Albion Football Club. Rivalitas kedua klub ini pun menjadi semakin tajam dan bahkan menjurus kepada persaingan yang tidak sehat lagi. Pada saat kedua klub kebetulan bertemu di ajang Piala FA musim 1888-1889, Sunderland AFC memilih untuk mengundurkan diri daripada membuat Albion mendapatkan uang dari hasil penjualan tiket. Albion adalah merupakan salah satu pendiri dan anggota liga Football Alliance, sebuah liga tandingan dari Football League. Sedangkan Sunderland AFC, sang rival, masuk menjadi anggota Football League mulai musim 1890-1891. Saat Sunderland AFC mulai berkompetisi di Football League, Albion kemudian mulai kekurangan pendukung dan penonton. Dan ketika Sunderland AFC keluar sebagai juara Football League pada musim 1891-1892, Albion pun bubar.

Kejayaan Sunderland (1892-1936)

Sunderland benar-benar merajai sepakbola Inggris di tahun-tahun awal kelahiran liga, yaitu pada musim 1891-1892, 1892-1893, 1894-1895. William McGregor, pendiri Football League, sampai menjuluki mereka sebagai ‘Tim Bertalenta Penuh’. Sunderland kembali menjuarai liga pada tahun 1913, tahun yang sama mereka gagal di final Piala FA setelah dikalahkan Aston Villa di final. Gelar juara liga keenam disabetnya pada tahun 1936. Setahun kemudian, mereka menjuarai Piala FA untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Preston North End 3-1 di final.

Sejarah Transfer Pertama Pemain (1949-1950)

Sunderland adalah klub pertama dalam sejarah yang melakukan transfer tatkala mereka membayar £18,000 untuk player-manager Carlisle United, Ivor Broadis. Kemudian menyusul rekor pembelian Len Shackleton dan pemain asal Wales, Trevor Ford. Karena pembelian pemain-pemain itu, Sunderland dijuluki klub ‘Bank Inggris’. Sunderland mencapai peringkat 3 liga di tahun 1950, peringkat tertinggi terakhirnya sampai sekarang.

Skandal Finansial (1957-1958)

Pada tahun 1957, Sunderland dihukum liga karena ketahuan melebihi limit gaji pemain (waktu itu ada peraturan dimana klub tidak boleh melebihi jumlah total tertentu dalam penggajian pemain-seperti salary cap di NBA sekarang). Hasilnya klub didenda sebesar £5,000, chairman klub dan tiga orang direktur diskors liga. Hukuman itu terbukti membawa pengaruh besar sehingga pada tahun 1958 Sunderland harus terdegradasi untuk pertamakalinya setelah 68 tahun malang-melintang di divisi satu.

Piala FA 1973

Sunderland yang notabene hanya klub divisi 2 bisa memenangkan Piala FA pada tahun 1973 dengan menggulingkan Leeds United 1-0. Di final yang diadakan di Wembley tersebut kiper Sunderland, Jimmy Montgomery, melakukan penyelamatan mencengangkan dua kali. Penyelamatan ini banyak disebut sebagai penyelamatan terbaik dalam sejarah Wembley, dan banyak pula yang bahkan menyebutnya penyelamatan terbaik dalam sejarah. Adalah Ian Porterfield yang mencetak gol kemenangan Sunderland melalui tendangan voli di menit ke 30. Sejak 1973 hanya ada 2 klub lain yang bisa menjuarai Piala FA diluar divisi satu, Southampton pada tahun 1976 dan West Ham United pada tahun 1980.

Periode 1974-1991

Pada periode ini, prestasi Sunderland yang menonjol adalah kala mereka masuk final Piala Liga tahun 1985 dimana mereka kalah di final atas Norwich City. Uniknya setelah pertemuan mereka di final 1985 itu, mereka mengadakan perjanjian bahwa setiap Sunderland dan Norwich City bertemu di ajang apapun, ada satu piala persahabatan bergilir yang selalu diperebutkan antara mereka berdua.

Setelah 1985 prestasi Sunderland terus melorot, puncaknya pada tahun 1987 mereka sampai harus terdegradasi ke divisi 3 untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Tetapi di bawah chairman dan manager baru, Bob Murray dan Denis Smith, mereka mulai cepat bangkit dan promosi berturut-turut hingga mencapai divisi satu lagi pada tahun 1990. Sayangnya kali ini mereka hanya bertahan selama semusim di divisi satu dan terdegrasi lagi di musim berikutnya.

Periode 1992-2006

Sunderland mengejutkan Inggris lagi tatkala mereka berhasil masuk final Piala FA 1992 dengan status hanya klub divisi 2. Namun kali ini tidak ada pengulangan sejarah hebatnya di tahun 1973, Sunderland kalah 0-2 dari Liverpool. Setelah itu Sunderland tampil tidak stabil dan hampir terdegradasi ke divisi 3 jika saja Peter Reid tidak menyelamatkan klub. Reid, mantan pemain internasional Inggris, dengan cepat melakukan perubahan untuk memperbaiki performa Sunderland. Era Peter Reid memang ditandai dengan proses stabilisasi klub, ia memegang Sunderland selama 7 tahun dan termasuk salah satu manager Sunderland terlama.

Stadium Of Light

Pada tahun 1997, Sunderland telah menyelesaikan pembangunan stadionnya yang baru dan berpisah dengan stadion Roker Park, kandang mereka selama 99 tahun. Kandang baru Sunderland tersebut bernama Stadium Of Light, sebuah stadion berkapasitas 42.000 penonton yang pada saat itu merupakan stadion baru terbesar yang pernah dibangun setelah Perang Dunia II. Kapasitas stadion kemudian ditambah menjadi 49.000 penonton.

Pada tahun 1999, Sunderland kembali promosi ke Liga Premier dengan menjuarai divisi 2 dengan rekor 105 poin. The Black Cats bertahan sampai tahun 2003 dimana mereka secara memalukan terdegradasi setelah menjadi juru kunci liga dan hanya memperoleh poin 19. Mick McCarthy kemudian membawa Sunderland promosi lagi ke Premiership pada tahun 2005, namun kali ini lebih parah, dimana mereka hanya mampu meraih 15 angka, sebuah rekor terendah Premiership sebelum ‘dipecahkan’ lagi oleh Derby County di musim 2007-2008.

2006-sekarang

Saat Sunderland terdegradasi lagi di tahun 2006, Drumaville Consortium, sebuah konsorsium Irlandia yang dipimpin mantan pemain Sunderland sendiri, Nial Quinn, datang mengambil alih kepemilikan klub. Quinn kemudian menjadi chairman baru Sunderland menggantikan Bob Murray. Selama kekosongan kursi manager, Quinn bahkan sempat merangkap menangani klub sebagai manager namun dengan hasil yang kurang baik. Roy Keane, mantan legenda Manchester United yang juga pernah berseteru dengan Quinn di timnas Irlandia, diangkat menjadi manager Sunderland yang baru. Saat masih menjadi pemain di MU, Ferguson pernah mengatakan bahwa Roy Keane suatu saat akan menjadi manager hebat berkat visinya yang tajam di sepakbola. Keane lantas membawa Sunderland bangkit dari papan bawah divisi championship (dahulu divisi 2) untuk kemudian promosi ke Liga Premier pada musim pertamanya sebagai manager. Musim 2007-2008, Sunderland bisa bertahan di Premiership setelah duduk di posisi 15 klasemen.

Musim 2008-2009 dimulai dengan penampilan Black Cats yang inkonsisten yang membuat manager Roy Keane memutuskan untuk mengundurkan diri. Keane kemudian digantikan secara sementara oleh pelatih Ricky Sbragja, yang kemudian statusnya dipermanenkan. Walaupun mampu membuat Sunderland bertahan di Premiership Sbragja mengundurkan diri dan kemudian memutuskan hanya menjadi scout klub.

Ellis Short, pengusaha asal Amerika, kemudian datang mengambil alih saham Drumaville Consortium dengan Nial Quinn tetap menjadi chairman Sunderland. Untuk menggantikan Sbragja didatangkanlah Steve Bruce, manager Wigan yang sukses menangani Latics dan Birmingham sebelumnya. Situs Resmi Sunderland

sejarah manchester city

Manchester City Berdiri: 1887
Alamat: Rowsley St., M11 3FF England
Telepon: 0870 062 1894
Faksimile: 0161 438 7999
Surat Elektronik: mcfc@mcfc.co.uk
Laman Resmi: http://www.mcfc.co.uk
Ketua: Khaldoon Al Mubarak
Direktur: Garry Cook
Stadion: The City of Manchester Stadium
Sejarah Singkat
Didirikan dengan nama awal St. Mark's (West Gorton) pada 1880 oleh Anna Connell serta dua pengurus gereja St. Mark's, klub pindah ke timur kota Manchester dan diberi nama lagi menjadi Ardwick AFC. Nama tersebut menjadi Manchester City FC pada 1893/94 setelah klub mengalami reorganisasi akibat masalah finansial. Lima tahun setelahnya, City meraih promosi ke Divisi Satu. Gelar pertama klub didapat di kancah Piala FA, setelah City menekuk Bolton Wanderers 1-0, pada 23 April 1904. Sayangnya, segera setelah itu kondisi finansial klub terganggu dan menyebabkan tertahannya status 17 pemain, termasuk kapten Billy Meredith, yang akhirnya memutuskan menyeberang ke Manchester United.

Gelar liga pertama direngkuh musim 1936/37, namun City terdegradasi musim selanjutnya meski mencetak gol lebih banyak dari tim manapun di kompetisi. Prestasi tersebut baru dapat terulang lebih dari tiga dasawarsa kemudian. Gelar liga 1967/68 diraih pada hari terakhir kompetisi dengan mengalahkan Newcastle United, 4-3.

Sukses pada 1960-an dan 1970-an tidak berlanjut pada dasawarsa berikutnya. Sepanjang 1980-an, City dua kali terdegradasi dari top tier. Saat Liga Primer dimulai 1992, City termasuk salah satu klub yang mengawalinya. Namun, empat tahun kemudian City terdegradasi ke Divisi Satu. City pun lebih dikenal sebagai klub yang turun naik divisi dan berada di balik bayang-bayang kesuksesan rival sekotanya. Perombakan besar-besaran terjadi akhir 2000-an ketika Thaksin Shinawatra dan kelompok investasi Abu Dhabi United Group bergantian menguasai saham kepemilikan klub. Keduanya sama-sama ambisius dan mengubah wajah City menjadi klub kosmopolitan. Tapi, masih butuh penegasan berupa prestasi di atas lapangan agar City benar-benar ditakuti seluruh tim di Inggris, atau bahkan di Eropa.
Catatan Prestasi
1 kali juara Piala Winners (1969/70)

2 kali juara Divisi Satu lama (1936/37, 1967/68)

7 kali juara Divisi Satu (Divisi Dua lama, 1898/99, 1902/03, 1909/10, 1927/28, 1946/47, 1965/66, 2001/02)

5 kali juara Piala FA (1903/04, 1933/34, 1955/56, 1968/69, 2010/11)

2 kali juara Piala Liga (1969/70, 1975/76)

3 kali juara Charity Shield (1937, 1968, 1972)

sejarah totenham hotspur

Tottenham Berdiri: 1882
Alamat: 748, High Road London N17 0AP England
Telepon: (0181) 365 55 000
Faksimile: 0844 499 5000
Surat Elektronik: customer.care@tottenhamhotspur.com
Laman Resmi: http://www.tottenhamhotspur.com/
Ketua: Daniel Levy
Direktur: Matthew Collecott & Sir Keith Mills
Stadion: White Hart Lane
Sejarah Singkat
Hotspur Football Club, cikal bakal Tottenham Hotspur, didirikan oleh sekelompok siswa All Hallows Church pada 1882. Nama Hotspur diduga diberikan sesuai nama Sir Henry Percy, yang juga dijuluki Harry Hotspur dalam karya William Shakespeare, Henry IV bagian pertama. Sir Henry memiliki tanah di kawasan pendirian klub, sehingga mempengaruhi pemilihan nama klub oleh siswa-siswa dari sekolah tata bahasa tersebut. Pada 1884, klub berganti nama menjadi Tottenham Hotspur Football Club and Atheltic Club demi mencegah kesamaan nama dengan klub lain, London Hotspur. Klub beralih status jadi profesional pada 1895 dan lantas mengikuti Southern League.

Prestasi Tottenham tak pernah menggembirakan sebelum akhirnya untuk kali pertama sukses menjuarai Divisi Satu musim 1950/51. Para pemain Spurs saat itu antara lain Alf Ramsey, Ronnie Burgess, Ted Ditchburn, Lee Duquemin, Sonny Walters, dan Bill Nicholson. Gaya "push and run" yang diperkenalkan manajer Arthur Rowe membuat Tottenham disegani lawan-lawan dan membuat tim diperhitungkan selama dasawarsa tersebut. Namun, gelar liga kedua Spurs baru diraih persis sepuluh musim kemudian. Salah satu faktor pendukung keberhasilan tersebut, konon karena kondisi lapangan White Hart Lane yang buruk, meski untuk ukuran saat itu.

Pada 1958, Bill Nicholson menjadi manajer dan memulai salah satu periode keemasan klub. Selama 16 tahun berkiprah di bangku teknik tim, Nicholson meraih delapan gelar utama. Ketika Nicholson pensiun, Spurs kehilangan kuku di Liga Primer. Spurs terdegradasi pada musim 1976/77 setelah 27 tahun berlaga di top tier. Fakta buruk ini disusul dengan penjualan kiper andalan Pat Jennings ke rival abadi mereka, Arsenal, yang tentu ditentang keras para fans. Pada 1980-an hingga 2000-an, kekuatan Spurs tetap diperhitungkan di kancah Liga Primer. Tapi, mereka baru sebatas menjadi klub kejutan yang belum benar-benar mampu mendominasi kompetisi sebagai tim dengan mental juara.
Catatan Prestasi
2 kali juara Piala UEFA (1971/72, 1983/84)

1 kali juara Piala Winners (1962/63)

2 kali juara Divisi Satu lama (1950/51, 1960/61)

2 kali juara Divisi Dua lama (1919/20, 1949/50)

8 kali juara Piala FA (1900/01, 1920/21, 1960/61, 1961/62, 1966/67, 1980/81, 1981/82, 1990/91)

4 kali juara Piala Liga (1970/71, 1972/73, 1998/99, 2007/08)

7 kali juara Charity Shield (1921, 1951, 1961, 1962, 1967, 1981, 1991).